Pelantikan Pramuka Bantara MAN 1 Majene

Langit sore MAN 1 Majene hari itu tampak muram. Awan kelabu menggantung berat, seolah menyimpan sejuta rasa. Hujan perlahan mulai turun, membasahi bumi, membasahi langkah-langkah tegap para calon Bantara yang berdiri dalam diam, penuh harap, penuh semangat.

Namun, hujan bukan alasan untuk mundur. Justru di bawah rinainya, semangat mereka membara. Dingin bukan menjadi penghalang, tapi penguat tekad. Langkah mereka telah sampai pada satu titik penting: Pelantikan Bantara, sebuah momen yang bukan sekadar seremoni, melainkan bukti perjuangan, konsistensi, dan kematangan jiwa Pramuka.

Satu per satu, nama-nama dipanggil di hadapan Pembina dan Sang Merah Putih yang tetap tegak di tengah hujan, tangan-tangan muda itu mengepal erat, menyatakan kesetiaan pada Trisatya dan Dasa Dharma. Air hujan yang menetes dari wajah mereka bercampur dengan haru, mungkin tak terlihat, tapi begitu terasa di dada.

Pelantikan ini bukan hanya penobatan gelar, tapi simbol dari perjalanan panjang yang penuh keringat, tawa, tantangan, dan persaudaraan. Mereka telah menyelesaikan syarat kecakapan dengan semangat juang yang tak luntur, meski diterpa keterbatasan. Mereka telah membuktikan bahwa jiwa Pramuka sejati tidak hanya kuat dalam kering, tapi juga dalam basahnya badai.

Kini, Bantara MAN 1 Majene lahir dari rahim pengorbanan dan semangat tak kenal menyerah. Mereka bukan hanya Pramuka, mereka adalah teladan. Hujan sore itu menjadi saksi, bahwa tekad tak bisa dilunturkan, bahwa langit kelabu pun tak mampu memadamkan cahaya di hati mereka.

Selamat, Bantara. Langkahmu baru saja dimulai. Teruslah menapaki jalan kehormatan, setia, dan penuh bakti. Tanah Majene bangga memijak kakimu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *